1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>

Berita

  • Seminar “Bulls Selection” -

    BOGOR, fkh.ipb.ac.id. Seminar akademik tentang proses penyeleksian sapi pejantan di Indonesia oleh Dr. John Bertram dari Meat and Livestock Australia dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan (11/4 2013). Materi yang disampaikan berjudul "Selecting bulls to improve beef production in Indonesia". Peserta yang hadir hingga lebih dari 130 orang yang berasal dari berbagai latar belakang seperti dari Balai Inseminasi Buatan Cipelang, Dosen FKH, dosen FAPET, mahasiswa PPDH FKH, mahasiswa S1 FKH dan FAPET IPB.

  • IPB Peduli Bencana Gunung Kelud: FKH Mengirimkan Tim Kesehatan Hewan -

    KEDIRI, fkh.ipb.ac.id - Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak langsung oleh letusan Gunung Kelud (13 Februari 2014) yang lalu, FKH IPB sesuai dengan bidangnya telah mengirimkan Tim Pemeriksaan Kesehatan Hewan yang terdiri dari dokter hewan dan paramedik ke Kediri, Jawa Timur. Tim yang diketuai oleh Dr. Drh. Amrozi dengan anggota Dr. Drh. R. Harry Soehartono, MAppsS, Drh. Aulia Miftahur Rahman, Kosasih, Irfan Suryadi dan Chaerul Suparman telah bertugas dari tanggal 25-27 Februari 2014, melayani beberapa kecamatan yang berjarak 5-9 Km dari Puncak Gunung Kelud. Tim melakukan pelayanan berupa pemeriksaan kesehatan, pengobatan dan pemeriksaan status reproduksi dengan menggunakan ultrasonografi.

  • Mahasiswa FKH IPB menghadiri Munas Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia ke-XVI di Batu, Malang -

    MALANG, fkh.ipb.ac.id - Tujuh orang mahasiswa FKH IPB (Hasan Ashari, Yusuf Adi Nugroho, Riena Carlina, Nadhear Nadadyanha Dannar, Banu Ardhiyanto, Rizka Amalia, dan Lufna M. Tandiayuk) menghadiri Musyawarah Nasional Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia (MUNAS IMAKAHI) XVI di Batu, Malang (3-6/2).  Acara tersebut merupakan agenda rutin untuk melakukan evaluasi kinerja pengurus besar (PB) dan cabang (PC) IMAKAHI dan dihadiri oleh 98 anggota delegasi dari sepuluh universitas yang tergabung dalamkeanggotaan IMAKAHI.

  • Seminar Akademik: Isu Kesejahteraan Hewan dalam Perdagangan Ternak Dunia -

    BOGOR, fkh.ipb.ac.id – “Implementasi kesejahteraan hewan (animal welfare) berbeda-beda bergantung kepada jenis hewan dan negara yang melaksanakannya. Pelaksanaan kesejahteraan hewan akan berdampak pada kualitas produk yang dihasilkan serta memudahkan pelaksanaan pekerjaan”. Demikian beberapa hal yang disampaikan oleh Dr. Leisha Hewitt, seorang konsultan animal welfare dari Meat and Livestock (MLA)  Australia dalam seminar akademik yang disampaikan di FKH IPB Rabu (6/2).

  • Mahasiswa FKH IPB Mengikuti Global Health True Leader di Makasar -

    Makasar, 26 Januari 2014. Lima mahasiswa FKH IPB telah mengikuti program pelatihan untuk para calon pemimpin bangsa yang diberi nama Global Health True Leader pada tanggal 18-26 Januari 2014 di Makassar, Sulawesi Selatan. Program ini bertujuan utuk menyiapkan para generasi muda yang mampu menjadi pemimpin dalam bidang kesehatan, mampu menghadapi tantangan global, serta mampu berkontribusi dalam pemecahan masalah kesehatan baik di tingkat nasional maupun internasional.

English

IPB Menjadi Perguruan Tinggi Penyumbang Inovasi Terbanyak pada 104 Inovasi Indonesia 2012

30 Agustus 2012. Peneliti-peneliti IPB menyumbang sebanyak 48 dari 104 Inovasi Indonesia 2012 yang penganugerahannya dilakukan pada Acara Puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-17 di Gedung Merdeka Bandung.  Jumlah ini menghantarkan IPB sebagai perguruan tinggi yang menempatkan inovasi terbanyak pada anugerah tersebut. Sebanyak 4 inovasi diantaranya dipersembahkan oleh peneliti-peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yaitu “Jamu anti flu burung “ (Dr. Agus Setiyono dkk.), “Berkat biji buah, lalat kini musnah” (Meriza Fitri dkk.), “Inspektur antibodi “ (Prof. Retno D. Soejoedono dkk.), dan “Undangan yang mematikan” (Dr. Akhmad Arif Amin).

Acara Puncak Harteknas ke-17 tahun ini yang mengangkat tema “Inovasi untuk Kemandirian Bangsa” dihadiri oleh Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY menyebutkan kunci keberhasilan dari keunggulan Indonesia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu Indonesia haruslah bisa menjadi bangsa inovasi. Untuk menjadi bangsa inovasi salah satunya ialah dengan mengubah mindset. Presiden berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia yang menghasilkan riset baik di Indonesia maupun di luar negeri serta bahu membahu dengan ilmuwan luar negeri dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Inilah yang akan mengantarkan kita menjadi bangsa inovasi.

Pada Acara puncak tersebut dilakukan peluncuran buku 104 Inovasi Indonesia 2012 yang diterbitkan oleh Business Innovation Center (BIC) dan didukung sepenuhnya oleh Kementrian Riset dan Teknologi. Berikut cuplikan empat inovasi hasil karya peneliti-peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang diambil dari buku tersebut:

Jamu Anti Flu Burung: Formulasi Ekstrak Tanaman Obat untuk Pencegahan Flu Burung

Drh. Agustus Setiyono, MS, Ph.D; Dr. Ir. Nurliani Bermawie; Dr. Ir. Muhammad Syakir; Dr. Drh. Wiwin Winarsih, MSi

Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus Avian Influenza Tipe A, strain H5N1, di Indonesia telah merengut lebih dari 100 jiwa manusia, selain menimbulkan kerugian ekonomi yang besar karena membunuh lebih dari 100 jiwa manusia, selain menimbulkan kerugian ekonomi yang besar karena membunuh jutaan ternak unggas. Obat yang ditetapkan pemerintah yaitu Tamiflu dan Amantadine, masih sepenuhnya diimpor, dan selain itu dilaporkan mulai memicu resistensi pada virus H5N1.

Beberapa tanaman obat asli Indonesia menunjukkan potensi sebagai bahan anti virus baik pada hewan maupun pada manusia, yakni Sambiloto, Sirih Merah dan Adas. Eksplorasi potensi tanaman obat tersebut melalui rangkaian uji laboratorium memberikan hasil yang potensial efektif menghambat infeksi virus AI H5N1 ke unggas.

Invensi ini dapat berpotensi diaplikasikan pada industry peternakan sebagai vaksin maupun farmasi.

 

Berkat Biji Buah, Lalat Kini Musnah: Ekstrak Buah Bintaro sebagai Biolarvasida terhadap Lalat Rumah

Meriza Fitri; Drh. Upik Kesumawati Hadi, MS, Ph.D; Drh. Supriyono; Kiki Restika; Isna Lailatur R; Haddi Wisnu Yudha.

Tanaman Bintaro merupakan tumbuhan mangrove yang tumbuh subur dan mudah ditemui di berbagai wilayah di Indoensia. Tanaman Bintaro diketahui mengandungbanyak senyawa metabolit beracun (flavonoid, steroid, saponin alkaloid, triterpenoid, tannin, dan polivenol) yang mudah diperoleh, aman bagi masyarakat, ramah lingkungan, dan cocok digunakan sebagai biolarvasida.

Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan biji buah Bintaro, dengan hasil akhir berbentuk serbuk. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstraksi buah Bintaro dengan konsentrasi 30% sudah efektif sebagai biolarvasida lalat rumah (tingkat kematian 50% dalam 5,8 jam dan 90% dalam 25,9 jam). Sementara konsentrasi 80% menghasilkan tingkat kematian 90% dalam 4,9 jam.

Invensi ini berpotensi diaplikasikan pada industry pakan hewan, industry hama dan penyakit hewan, industry makanan, TPA, dan industry peternakan (terutama unggas).

Inspektur Antibodi: Antigen AI H5N1 Standar sebagai Rujukan I untuk Monitoring Titer Antibodi Hasil Vaksinasi AI di Industri Peternakan Ayam

Prof. Dr. Drh. Retno D. Soejoedono, MS; Dr. Drh. Sri Murtini, MSi; Dr. Drh. Kamalludin Zarkasie; Prof. Dr. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS.

Vaksinasi adalah strategi yang dipilih pemerintah sebagai salah satu cara pengendalian flu burung di Indonesia, diharapkan mampu menginduksi antibodi protektif terhadap virus flu burung penantang yang homolog. Sayangnya virus flu burung sejak tahun 2003 hingga 2011 mengarah kepada perubahan sifat biologis yang sangat nyata. Hal ini mengakibatkan vaksin flu burung yang beredar secara komersial di Indonesia beberapa dalam bentuk “cocktail” atau polivalen.

Inovasi ini berkaitan dengan pembuatan dan standarisasi antigen AI H5N1 komersial untuk memonitor titer antibodi hasil vaksinasi flu burung di industry peternakan ayam. Hasilnya adalah antigen virus flu burung subtype H5N1 yang representative digunakan pada uji HI (uji serologi) adalah antigen Legok 2004.

Inovasi ini berpotensi diaplikasikan untuk memonitor titer antibodi hasil vaksinasi AI di industri-industri peternakan ayam.


Undangan yang Mematikan: Pengembangan dan Aplikasi Formula Atraktan Nyamuk Aedes aegypti yang Ramah Lingkungan

Dr. Drh. Akhmad Arif Amin.

Penggunaan Insektisida dewasa ini telah mencapai tahapan yang sangat membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan. Angka kematian per tahun akibat keracunan insektisida sangat besar, begitu juga dampak penyakit fatal yang diakibatkan seperti kanker, cacat tubuh, kemandulan dan penyakit liver kronis.

Atraktan nyamuk Aedes aegypti merupakan alternatif pengendalian nyamuk Aedes aegypti yang diekstrak dari bau ayam kampong. Atraktan ini memiliki aroma yang menarik nyamuk betina dan ketika ditempatkan di dalam botolkemasan menjadi perangkap mematikan bagi nyamuk betina. Penggunaan atraktan yang relative mudah dan murah mempunyai prospek yang besar dalam rangka mengendalikan penyakit demam berdarah.

Inovasi dalam bentuk atraktan dapat dikemas dan ditransportasikan ke seluruh Indonesia bahkan ke Negara-negara endemic demam berdarah.

Sumber: Buku 104 Inovasi Indonesia 2012. Business Innovation Center.

 

Fakultas Kedokteran Hewan

Internal Link IPB

Eksternal LINK

Agenda

Berita Sebelumnya